Foto-foto Kegiatan


Jumat, 05 Maret 2010

Profile TK IT Muadz Bin Jabal


Taman Batita, playgroup dan TKIT Mu’adz Bin Jabal adalah taman kanak-kanak yang memadukan sekolah umum dengan model pesantren anak dengan harapan dapat menanamkan nilai-nilai agama sejak dini, membiasakan anak berprilaku islami dan menanamkan dasar-dasar untuk pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Taman Batita, playgroup dan TKIT Mu’adz Bin Jabal ini berada di bawah Konsorsium Yayasan Mulia. Berada di dua lokasi, yaitu Kampus I menempati gedung milik dewan da’wah islamiyyah ( DDII) yang beralamat di jalan Nyi Pembayun dusun Karang, kelurahan Prenggan, kecamatan Kotagede, Yogyakarta dengan luas tanah sekitar 1500 m 2. Kampus II terletak di Kompleks Masjid Multazam Ketandan Baru RT1/RW 38 Banguntapan Yogyakarta.

Letak Taman Batita, Playgroup danTKIT Mu’adz Bin Jabal yang cukup strategis ini, membuat minat orang tua untuk menyekolahkan putra-putrinya cukup besar. Apalagi dengan jam sekolah dari jam 08.00 – 14.30. Untuk TKIT Mu’adz Bin Jabal telah memulai aktifitasnya sejak tahun ajaran 1994/1995 dengan melalui 3 tahap perkembangan :
- Tahap pertama dengan waktu seminggu tiga kali dengan jam belajar 90 menit
- Tahap kedua dengan waktu belajar 6 hari di sore hari
- Tahap ketiga sudah mulai fullday school
Sedangkan untuk playgroup dan taman batita mulai beroperasi tahun 2001 dan langsung fullday school.

II . VISI SEKOLAH
Menjadi taman belajar unggulan, kebanggaan umat, yang melahirkan tunas bangsa yang berkepribadian islami
III. MISI SEKOLAH
1. Memberikan bekal dasar pada anak-anak untuk mencintai Al- Qur’an sehingga Al-Qur’an menjadi bacaan dan pandangan hidupnya sehari-hari.
2. Memberikan bekal dasar pada anak-anak untuk menjadi pribadi
muslim yang seimbang antara aspek rohani, akal dan jasmani.

PROGRAM PEMBELAJARAN
A. Program unggulan
1. Tahfidz Al-Qur’an, Al Hadist dan Doa sehari-hari
2. Belajar membaca Al-Quran
3. Pengajaran Aqidah Interaktif metode ALIF dari KIBAR (Keluarga Islam Britania Raya)
B. Program Pengembangan
1. Program kemampuan dasar(sesuai kurikulum yang berlaku)
2. Kunjungan Edukatif
3. Percobaan Alam (sains)
4. Kunjungan Edukatif
5. Renang
6. Manasik haji dan qurban
7. Pesantren ramadhan & Mabit semester
8. Kunjungan tokoh
9. Bakti sosial
10. Lukis
11. Outbond
12. Parenting Program
Kegiatan Khusus
Senin : Yaumi At Taujih
Selasa : Selasa Sehat
Rabu : English Day
Kamis : Kamis Santun
Jum’at : Special Day

Kelas Yang dibuka:
• 3 Kelas Batita (usia 6 bulan – 2 tahun)
• 2 kelas Play Group (usia 3 – 4 tahun)
• 3 kelas TKA (usia 4-5 tahun)
• 2 kelas TKB (usia 5-6 tahun)
Hari-hari ku di Sekolah…
• Gerak Fisik
Jasmani, gerakan yang melatih koordinasi, fleksibilitas, kepantasan dan keseimbangan tubuh.
Brain GYM, senam otak berupa gerakan-gerakan tubuh sederhana untuk merngsang kerja dan fungsinya otak secara optimal dan seimbang, membuat anak lebih konsentrasi dan mudah dalam belajar.
• Qir’oati
Metode membaca Al Qur’an dengan CEPAT,TEPAT dan BENAR. Diharapkan anak dapat membaca Al Qur’an dengan kualits yang baik.
• Tahfidz dan Tasmi’
Dengan metode yang variatif, aplikatif dan kreatif menjadikan anak senang menghafal Al Qur’an, Hadits dan doa harian.
• Kegiatan sentra
Metode Sentra dipilih karena ”bermain” dijadikan sebagai kegiatan inti. Ada fokus kegiatan bermain yang ditata dan direncanakan untuk pencapaian tahap perkembangan kemampuan anak. Sentra yang dibuka:
1. SENTRA PEMBANGUNAN (
2. SENTRA BERMAIN PERAN
3. SENTRA LIFE SKILL DAN PERSIAPAN
4. SENTRA SENI DAN BAHAN ALAM
(ADA FOTO MASING-MASING KEGIATAN SENTRA)
• Kemandirian
Stimulasi kemandirian melalui ketrampilan mengurus diri sendiri, seperti makan snack, makan siang bersama, gosok gigi, ganti baju, toilet training dan lain-lain, adalah untuk mempersiapkan kemandirian anak pada jenjang pendidikan berikutnya.
• Pembiasaan Ibadah
Rutinitas wudhu. Sholat berjamaah.berdoa dan berperilaku islami diharapkan akan tertanam pada diri anak. Sehingga kelak anak memiliki jiwa ikhlas, sabar dan senang beribadah.

KURIKULUM
KONSEP PENDIDIKAN ISLAM TERPADU

Sebelum membahas tentang metode dan kurikulum yang diterapkan di Taman Batita dan Play Group Mu’adz Bin Jabal, lebih dahulu ustadzah harus memahami Konsep Pendidikan Islam Terpadu, agar dalam pelaksanaan kegiatan belajar dan mengajar di taman batita maupun di play group Mu’adz bin Jabal senantiasa berada dalam ’kerangka’ keterpaduan dengan nilai-nilai keislaman dalam setiap aktivitas dan proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan.

Mengambil dari makalah yang disampaikan oleh Bapak Ery Masruri, secara paradikmatik, Konsep Pendidikan Islam Terpadu mengacu kepada 5 prinsip dasar kehidupan sebagai berikut :

1. Kesempurnaan Islam sebagai Dien, bahwa Islam sebagai pedoman hidup, ajaranya telah menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia
2. Status manusia, sebagai Kholifah fil ardi,yang karenanya manusia memerlukan kekuatan dan ketrampilan fisik, kecerdasan intelektual, serta kematangan emosional.
3. Tugas manusia sebagai ’abdullah’, yang memerlukan sikap ketundukan jiwa/taat hukum karena sadar akan kekuasaanny-Nya.
4. Kewajiban orang tua mendidik anak, dimana setiap anak terlahir dalam keadaan suci, dan setiap orang tua bertanggung jawab menjaga (mendidik) anaknya agar tetap dalam kesucian (Keislaman)nya.
5. Kewajiban Da’wah, dimana setiap orang berkewajiban untuk menyampaikan nilai-nilai kebenaran dan mencegah kerusakan (melekukan perbaikan/pendidikan) terhadap masyarakatnya.

Dengan lima prinsip dasar tersebut, maka Pendidikan harus dirancang secara terpadu, dimana aspek keterpaduannya meliputi :

1. Keterpaduan Kurikulum

Sebagai kpnsekwensi logis dari konsep ” hidup untuk ibadah” adalah tidak adanya dikotomik ’dunia- akhirat’. Setiap aktivitas harus merupakan representasi kerja kekahalifahan (pemeliharaan dunia), sekaligus pengabdian kepada Allah SWT (berimplikasi pada kebahagiaan akhirat). Hal demikian akan terwujud, hanya jika alam semesta (realitas obyektif) dipahami sebagai fenomena dari realitas hakikinya (kekukasannya). Sehinnga setiap interaksi yang terjadi, baik,fisik, mental maupun intelektual selalu dalam rangka dan berdampak kepada pengagungan Penciptanya.

Dengan kerangka pemahaman seperti demikian ,maka kurikulum dirancang tidak hanya untuk mengembangkan kemampuan fisikal dan kecerdasan intelektual saja , tetapi seluruh potensi fitri manusia secara kaffah, yakni kecerdasan intelektualnya,kekuatan dan ketrampilan fisikalnya, kematangan sosial emosionalnya, serta sikap jiwa yang tunduk kepada hukumNya ( eimanan dan ketakwaannya ).

Pada dataran operasional, hal ini berkonsekwensi pada dua hal :
1) Seluruh aktivitas diposisikan sebagai proses belajar mengajar, yang dirancang guna mengembangkan fikir dan dzikir secara bersama

2) Seluruh komponen pembelajaran harus saling terkait satu dengan lainya, sehingga membentuk jaring laba-laba (spider web) pembelajaran

2. Keterpaduan Iman, Ilmu dan Amal

Iman,ilmu dan amal adalah tiga hal yang tidak bisa dipisahkan. Dimana kesempurnaan Iman sangat ditentukan oleh kedalaman ilmu, dan dari keduanya berbuah amalan baik. Sebaliknya, amalan baik akan menjadi inspirasi (wasilah) ilmu, sehingga iman pun semakin bertambah dalam. Sedangkan iman yang dalam ,akan memancarkan ilmu dan berbuah amal kebaikan.

Dengan keangka pemahaman seperti demikian, maka setiap aktivitas dalam proses belajar mengajar diformat dalam satu kesatuan; iman, ilmu dan amal. Sehingga setiap materi pembelajaran tidak hanya dihadirkan sebagai wacana, tetapi utuh dengan aktualisasinya.

Dalam pelaksanaannya, hal ini menuntut adanya :
1) Komitmen keuswahan (konsistensi perilaku) dari seluruh jajaran, terutama pendidik (ustadzah). Karena aktualisasi dari nilai-nilai yang diajarkan, peertama kali akan dilihat anak/siswa pada diri ustadzah/pengajarnya.
2) Penegakan amar ma’ruf nahi munkar sebagai kontrol moral antar personal
3) Penguasaan kontektualitas (kemampuan aplikatif) ustadzah terhadap materi yang diajarkannya
4) Ketersediaan program dan sarana pembelajaran yang mendukung


3. Keterpaduan Pengelolaan

Keempat tuntutan diatas membawa konsekwensi pada pengelolaan belajar mengajar. Dimana setiap aktivitas harus dipandang sebagai proses pendidikan . Sehingga proses belajar mengajar , harus dipahami tidak terbatas hanya tatap muka di dalam ruang kelas saja ,tetapi berlangsus sejak ketika anak datang ke sekolah sampai ketika dia pulang ke umah. Dengan demikian , setiap sesuatu baik peristiwa, barang maupun orang ( siswa ,guru, pengurus yayasan bahkan tamu sekaligus) yang berada di lingkungan sekolah , harus selalu dikelola (diposisikan dan memposisikan dirinya sebagai media, obyek sekaligus subyek pendidikan, yang setiap aktivitasnya dikoordinasikan (disinkronkan) kedalam proses pendidikan

4. Keterpaduan Program

Keberhasilan sebuah program sangat tergantung dengan tingkat konsistensi dan kontinuitas penyelenggaraannya. Dalam kontek pendidikan , dimana prosesnya berjalan sepanjang masa ( sejak dalam kandungan sampai liang lahat) koordinasi program antar tiga pilarutamanya : keluarga, sekolah dan masyarakat menjadi prasarat yang tidak bisa ditinggalkan.Hal demikian dapat dipenuhi, hanya jika semua pihak melwetakkan pendidikan sebagai kewajibanya,dimana :
1) Keluarga harus membangun paradigma baru, dimana rumah dilihat sebagai sekolah pertama bagi anak, dan orang tua sebagai guru utamanya.
2) Sekolah sebagai institusi strategis penentu arah peradaban
3) Masyarakat adalah ladang persemaian, yang harus diolah dan dijaga kesuburannya.

Relasi antar ketiganya bersifat sinergis. ’kemitraan’. Dimana lembaga sekolah merupakan institusi da’wah (sosial) yang sedang melakukan tugas perbaikan (pendidikan), bekerja sama dengan keluarga dalam menyiapkan kemampuan anak (generasi penerus) untuk mengambil peran masa depannya (membangun peradaban). Dalam hal ini, karena programnya yang lebih spesifik pendidikan, sekolah harus mengambil inisiatif, dengan merumuskan serangkaian program yang sinergis , dengan melibatkan keluarga (wali urid) dan masyarakat secara optimal.





METODE PEMBELAJARAN


Dalam pemilihan metode pembelajaran untuk anak usia dini, metode yang dipilih harus memuat bebeapa hal sebagai berikut :

1. Metode bermain sambil belajar
2. Metode yang berpusat pada anak
3. Metode yang memfasilitasi kecerdasan holistik
4. Metode yang menjadikan lingkungan sekitar sebagai media dan sumber belajar
5. Metode yang membawa anak merasa dihargai,dipedulikan, nyaman, aman, bebas berkreasi, bebas menuangkan ide-idenya
6. Metode yang sesuai dengan tingkat usia /perkembangan psikologis, dan kebutuhan spesifik anak
7. Metode yang relatif mudah dilasanakan pada keadaan terbatas


A. PEMBELAJARAN DENGAN METODE BERMAIN

Bermain adalah dunia anak. Bermaian adalah kebutuhan penting anak. Melalui permaianan bermutu dan dampingan orang dewasa serta dukungan lingkungan bermain yang juga bermutu, anak akan belajar banyak hal. Bermain adalah kegiatan yang ditunjukkan untuk mendapatkan kesenangan. Bermain bagi anak membantu mereka memahami dan mempraktekkan kemampuan pengembangan rasa , ,sosial, dan keterampilan sosial ,itelektual. Bermain harus dilakukan dengan rasa senang sehingga semua kegiatan bermain akan menghasilkan proses belajar pada anak.

Manfaat yang didapat anak saat bermain antara lain :

• Bermain dapat mengembangkan emampuan sosial, emosional, intelektual, fisik
• Bermain sebagai wahana untuk menyalurkan surplus energi
• Melatih ketrampilan hiduf (life skill)
• Melatih kemampuan mengatasi masalah
• Saat bermain anak membangun pengetahuannnya ( pengetahuan akan nilai-nilai agama, pengetahuan fisik,logika matematika,pengetahuan sosial dan pengetahuan diri sendiri)
• Saat bermain anak membangun konsep dirinya

Agar pembelajaran dapat berlangsung dengan metode bermaian efektif, maka ustadzah harus menyiapkan lingkungan ermaian yang bermutu tinggi, tercermin dari ketersediaan sarana bermaian yang mendukung tiga jenis main :

1. Main Sensorimotor
Adalah kegiatan yang menggunakan gerakan otot kasar dan halus serta mengeksplor seluruh indera tubuh untuk mendapatkan rasa dan fungsi indera. Anak usia dini belajar melalui panca inderanya dan melalui hubungan fisik dengan lingkungan mereka. Main sensorimotor penting untuk mempertebal sambungan antar neuron, contoh main sensorimotor, misal bermain air, pasir, meraba bji-bijian kasar halus,dsb

2. Main Peran
Main peran disebut juga main simbolik, pura-pura ,fantasi,imajinasi, dimana anak
Mengekspresikan gagasannya melalui gerakan tubuh atau benda lainnya. Menurut Vygosky, main peran angat penting untuk perkembangan kognisi, sosial, emosi anak pada usia tiga sampai enam tahun. Jenis main peran : Makro, Anak berperan sesungguhnya dan menjadi seseorang atau sesuatu. Saat anak memiliki pengalaman sehari-hari dengan main peran makro (tema sekitar kehidupan sehari-hari anak), mereka belajar banyak ketrampilan pra akademis seperti mendengarkan, etap dalam tugas, menyelesaikan masalah, dan bermaian kerjasama dengan yang lain. Mikro , Anak memegang atau menggerak-gerakkan benda-benda berukuran kecil untuk menyusun adegan. Saat anak main peran mikro, mereka belajar untuk menghubungkan dan mengambil sudut pandang dari orang lain.

3. Main Pembangunan
Adalah membuat hasil simbolik dengan menggunakan bahan main untuk menghadirkan gagasan pikiran, jika pada tahap awaal anak bermain sensorimotor denga melihat, menyentuh dan memegang bahan main, maka tahap berikutnya anak akan menggunakan mainan untuk untuk menghasilkan sebuah karya. Menurut Piaget, Main pembangunan membantu anak mengembangkan ketrampilan yang mendukung tugas-tugas sekolahnya dikemudian hari, contoh main pembangunan, main balok, plastisin, bermain lego. Dalam main pembangunan dikenal dengan istilah:
1) Main pembangunan dengan sifat cair, yaitu main pembangunan dengan menggunakan bahan yang bentuknya bisa mengikuti keinginan anak. Misal, main pembangunan dengan menggunakan krayon atau plastisin
2) Main pembangunan sifat terstruktur, yaitu main pembangunan yang penggunaan bahan main dikontrol oleh bentuk dari bahan tersebut. Misal main balok,lego

B. METODE SENTRA DAN LINGKARAN

Dengan mempertimbangkan metode bermain dalam belajar, maka metode pembelajaran yang digunakan di Mu’adz bin Jabal adalah metode sentra dan lingkaran. Alasan menggunakan metode pembelajaran sentra karena sentra belajar dirasa cukup bisa memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Anak anakan mengembangkan ketrampilan sosial saat beraksi dalam bentuk kerjasama dengan anak lain, berbagi materi dan saling mengajar.
2. Sentra mendorong terjadinya komunikasi karena anak bisa bisa bicara dan mengekspresikan dirisecara verbal dengan bebas
3. Anak bisa bergerak dan aktif, sehingga diharapkan akan terjadi sedikit masalah disiplin dan pelanggaran peraturan
4. Sentra belajar melibatkan penggunaan lebih dari satu indra
5. Sentra mendorong anak belajar sesuai dengan kecenderungan belajar anak (unik)
6. Sentra memungkinkan anak bekerja mandiri, dalam kelompok kecil atau dalam posisi satu lawan satu dengan gurunya.
7. Sentra bisa mengakomodir berbagai kemampuan dan minat anak karena anak bisa belajar sesuai dengan kecepatannya
8. Kreativitas rasa ingin tahu dan sifat ingin mencoba (eksprimentasi) bisa dikembangkan melalui sentra
9. Sentra belajar memungkinkan memanfaatkan waktu dan ruangan kelas serta materi yang paling efektif
10. Sentra belajar mendorong anak untuk mandiri, mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah.
11. Sentra memberikan kesempatan utuk adanya keanekaragama dan fleksibilitas dalam hal materi dan kegiatan belajar
12. Dengan sentra belajar, anak bisa mengulangi kegiatan untuk memperkuat ketrampilan atau kesenangannya.



Ciri-ciri dari metode Sentra dan Lingkaran adalah :

1. Pembelajarannya berpusat pada anak
2. Pembelajarannya dengan metode bermain
3. Menempatkan setting lingkungan main sebagai pijakan awal yang penting
4. Memberikan dukungan penuh kepada setiap anak untuk aktif, kreatif dan berani mengambil keputusan sendiri
5. Peran ustadzah sebagai fasilitator, motivator, dan evaluator
6. Kegiatan anak berpusat di sentara-sentra main yang berfungsi sebagai pusat minat
7. Terdapat empat pijakan , yaitu pijakan lingkungan, pijakan sebelum main, pijakan saat bermaian, dan pijakan setelah bermain
8. Pijakan sebelum dan pijakan setelah bermain dilakukan dalam posisi melingkar


B.1 SENTRA-SENTRA MAIN SEBAGAI PUSAT KEGIATAN MAIN

Sentra main adalah tempat bermain sambil belajar untuk merangsang aspek pengembangan kemampuan dasar dan aspek pengembangan pembiasaan dan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Dimana kegiatan main yang ada di dalamnya ditata dan direncanakan untuk dapat mencapai tahapan perkembangan kemampuan anak.

Jumlah dan jenis sentra yang dibuka tahun ajaran 2007/2008 di kelompok Batita : sentra irama dan gerak, sentra main peran, sentra pembangunan,sentra bahan alam dan sentra life skill dan persiapan. Untuk Play Group/TK : sentra main peran, sentra pembangunan, sentra seni dan bahan alam, sentra life skill dan persiapan. Dalam semua kegiatan main di sentra semuanya diintegrasikan dengan pengembangan keimanan dan ketakwaan dan penanaman nilai-nilai keislaman.

1. Sentra Bermain Peran,adalah tempat bermain yang ditata dan direncanakan yang menyediakan berbagai alat dan bahan main yang menunjang permainan peran mikro dan makro.

2. Sentra bermain pembangunan, adalah tempat bermain yang ditata dan direncanakan yang menyediakan berbagai alat dan bahan main yang mendukung kegiatan main pembangunan terstruktur dan main pembangunan sifat cair.

3. Sentra sains dan bahan alam, adalah tempat bermain yang ditata dan direncanakan menyediakan berbagai bahan alam, dan berbagai alat dan bahan yang mendorong anak melakukan percobaan dan menemukan konsep iptek.

4. Sentra seni dan kreativitas, adalah tempat bermain yang ditata dan direncanakan yang menyediakan berbagai alat dan bahan main untuk mengembangkandaya cipta, seni,daya pikir dan kreativitas anak.

5. Sentra Skill dan persiapan, adalah tempat main yang ditata dan direncanakan yang menyediakan berbagai alat dan bahan main, yang mendorong minat terhadap baca, tulis, hitung dan mendukung mengembangkan life skill anak untuk persiapan memasuki tahapan belajar selanjutnya.
6. Sentra Irama dan gerak (khusus batita), adalah tempat main yang ditata dan direncanakan yang menyediakan berbagai alat dan bahan main yang mendorong perkembangan gerak motorik halus dan motorik kasar anak, serta melatih kepekaan irama,ritme, melodi anak

Rabu, 03 Maret 2010

MODEL PEMBELAJARAN ATRAKTIF DI TAMAN KANAK-KANAK


Oleh: Kartini, S.Pd.
Widyaiswara PPPG Tertulis Bidang Studi Keguruan)

Sasaran utama dalam kerangka sistem dan aktifitas persekolahan di antaranya mempersatukan pendidikan dan kreatifitas peserta didik. Tujuannya untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi yang dimiliki anak didik termasuk potensi memberikan respon kreatif terhadap hal-hal sekitar kehidupannya. Ada yang beranggapan bahwa bila daya kreativitas peserta didik rendah, maka secara pedagogis ada yang kurang pas dalam kerangka sistem dan aktivitas persekolahan.Malik Fadjar sebagai praktisi pendidikan berpendapat selama ini proses belajar mengajar terasa rutin dan statis, kalaupun ada perubahan atau perbaikan sifatnya masih sepotong-sepotong dan parsial. Padahal pembaharuan dan perubahan tidak hanya menyangkut didaktik metodik saja, melainkan menyangkut pula aspek-aspek pedagogis, filosofis, input, proses, dan output.

James W. Botkin menamai proses belajar itu dalam suasana inovatif [innovative Seaming). Suasana belajar yang inovatif dapat memecahkan persoalan-persoalan krisis dalam pendidikan dan membentuk ketahanan anak didik maupun sekolah dalam menghadapi kehidupan serta menjaga harkat martabat manusia supaya tetap berkembang.

Sementara ini ada pemahaman yang salah, mereka menganggap bahwa guru TK tidak lagi berpandangan bahwa taman yang paling indah tempat bermain dan berteman banyak yang penuh dengan suasana inovatif. Akan tetapi tempat belajar, tempat mendengar guru mengajar dan mengerjakan PR. Tentu saja hal itu akan membuat anak-anak jenuh, pasif, dan terlebih lagi hilang sebagian masa bermainnya.

Dalam tulisan ini mencoba menguraikan bagaimana mempertemukan pendidikan dan kreativitas pada anak didik melalui model pembelajaran di TK yang atraktif.

PPPG Tertulis telah rnengadakan studi banding pada sekolah Taman Kanak-kanak di wilayah Bandung tengah mengenai pengembangar model pendidikan di TK. Berdasarkan temuan di lapangan ada beberapa TK yang sedang menerapkan pengembangan –model pendidikan untuk TK Atrakfif.

Gagasan TK Atraktif tersebut pada dasarnya mempakan upaya mengembalikan TK pada fungsinya yang hakiki sebagai sebuah taman yang paling indah. Maksud tainan di sana yaitu TK yang menyenangkan dan menarik. Selain dari itu, dapajuga menantang anak untuk bermain sambil mempelajari berbagai hal tentang bahasa, intelektual, motorik, disiplin, emosi, dan sosiobilitas.Kata atraktif mengandung makna selain menarik dan menyenangkan juga penuh kreativitas dan dapat mendorong anak bermain sambil belajar sesuai dengan prinsip pokok pendidikan di TK.

Pengembangan Model Pelajaran untuk TK Atraktif

Seperti yang sudah diuraikan di atas, bahwa tujuan pokok dari pengembangan TK atraktif ialah mengembalikan dan menempatkan TK pada fungsinya yang hakiki sebagai sebuah taman. Secara khusus, pengembangan TK atraktif bertujuan untuk:

* Menanamkan filosofi pelaksanaan pendidikan di Taman Kanak-kanak. Filosofi pendidikan TK telah disusun dan dituangkan dengan indahnya dalam mars lagu TK. Mars TK bukan hanya sekedar dinyanyikan, tapi merupakan pengejawantahan isi dan makna yang tertuang dalam lagu tersebut. TK adalah “taman yang paling indah”, secara filosofi seharusnya menjiwai pelaksanaan pendidikan TK dengan berbagai bentuk kegiatan yang indah, menarik dan menyenangkan anak. “Tempat bermain”, yaitu melalui bermain anak akan “berteman banyak”, urrtuk mempelajari karakter, keinginan, sikap, dan gayatingkah laku masing-masing.
* Menyebarkan wawasan tentang pelaksanaan pendidikan TK yang atraktif. Tingginya derajat penyimpangan TK mengharuskan perlunya secara intensif penyebaran wawasan dan pemahaman tentang makna dan proses pendidikan TK atraktif.
* Mengubah sikap dan perilaku guru yang belum sesuai dengan kerakteristik pendidikan di TK.
* Mendorong munculnya inovasi dan kreativitas guru dalam menciptakan dan mengembangkan iklim pendidikan yang kondusif di TK.

Selanjutnya suatu Taman Kanak-kanak dapat dikatakan atraktif apabila memenuhi 3 persyaratan yang disebut sebagai 3 pilar utama.

Pilar pertama: Penataan lingkungan, baik di dalam maupun diluar kelas. Walaupun penataan lingkungan di TK sudah ada dalam buku pedoman sarana pendidikan TK. Namun bagi seorang guru yarrg kreafif, tidak ada sejengkal ruangan yang tidak bisa dijadikan sarana pengembangan anak. Segi penataan lingkungan di dalam kelas, setiap ruangan, mulai dari lantai, dinding, rak buku, jendela, sampai langit-langit dapat dibuat menjadi atraktif. Begitu juga segi penataan lingkungan di luar kelas, mulai dari pintu gerbang, jalan menuju kelas, tanaman hias, apotik hidup, kandang binatang ternak, saluran air, tempat sampah, papan pengumuman, ayunan, jungkitan, papan luncur sampai terowongan semuanya bisa dirancang atraktif. Contoh: Pintu gerbang- bisa dibentuk menjadi bentuk ikan hiu, harimau atau ayam.

Pilar kedua: Kegiatan bermain dan -alat permainan edukatif, Merancang, dan mengembangkan berbagai jenis alat permainan edukatif, bagi guru yang kreatif akan menggunakan bahan-bahan yang terdapat di lingkungan sekitar anak, misalnya terbuat dari koran, kardus, biji kacang hijau, batang korek api, lilin, gelas aqua dan sebagainya. Demikian pula pada kegiatan pengembangan kemampuan anak, akan dikemas oleh guru menjadi kegiatan yang menarik. dalam suatu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), contohnya dalam pembukaan ada kegiatan brainstorming, dalam proses permainan ada kegiatan fun cooking, sandal making, story reading, atau story telling.

Pilar ketiga: Ada interaksi edukatif yang ditunjukkan guru. Guru TK harus memahami dan melaksanakan tindakan edukatif yang sesuai dengan usia perkembangan anak. Mulai dari. pembukaan kegiatan proses KBM sampai penutup kegiatan. Tindakan guru dapat dimulai dengan memberikan teladan, misalnya cara duduk, membuang sampah etika makan, berpakaian, berbicara dan sebagainya. Demikian pula cara bertindak, misalnya memberi pujian dan dorongan pada anak, menunjukkan kasih sayang dan perhatian hendaknya adil.Beberapa

Beberapa Model Pendidikan TK Atraktif

Dalam tulisan ini, akan dikemukakan 2 contoh model pendidikan TK atraktif, yaitu Pengajaran Suara, Bentuk dan Bilangan dan Sistem PengajaranSentra.

1. Pengajaran Suara, Bentuk, dan Bilangan

Konsep pengajaran suara, bentuk dan bilangan berawal dari konsep dasar yang dikemukakan oleh John Heindrich Pestalozzi. Walaupun Pestalozzi hidup pada abad 16, tapi pandangan dan konsep-konsepnya banyak yang menjadi kerangka dasar para pemikir pendidikan anak untuk Taman Kanak-kanak di abad sekarang. Salah satu karyanya berjudul “Die Methoden” yang mengupas tentang metodologi pembelajaran dalam beberapa bidang pelajaran. Salah satu pandangannya yang sangat relevan dalam pendidikan untuk TK atrakfif adalah konsep pembelajaran yang menekankan pada suara, behtuk dan bilangan. Konsep ini sangat dekat dengan pengembangan potensi anak pada dimensi auditori, visual dan memori yang tepat digunakan bagi perkembangan anak TK.

Pandangan Dasar tentang Pendidikan

Pestalozzi mempunyai pandangan bahwa pendidikan bukanlah upaya menimbun pengetahuan pada anak didik. Atas dasar pandangan ini, ia menentang pengajaran yang “verbalists”. Pandangan ini melandasi pemikirannya bahwa pendidikan pada hakikatnya usaha pertolongan (bantuan) pada anak agar anakmampu menolong dirinya sendiri yang dikenal dengan “Hilfe Zur Selfbsthilfe“.

Dilihat dari konsepsi tujuan pendidikan, Pestolozzi sangat menekankan pengembangan aspek sosial pada anak sehingga anak dapat melakukan adaptasi dengan lingkungan sosialnya serta mampu menjadi anggota masyarakat yang berguna. Pendidikan sosial ini akan berkembang jika dimulai dari pendidikan ketuarga yang baik. A Malik Fajar dalam opininya tentang Renungan Hardiknas tanggal 2 Mei 2001 sangat mendukung gagasan untuk menghidupkan kembali pendidikan berbasis masyarakat (community base education) dan menjadikannya sebagai paradjgma barn sekaligus model yang patut ditindaklanjuti.

Pada kenyataannya baik pendidikan maupun sistem dan model-model kelembagaan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat mencerminkan kondisi sosial, ekonomi dan budaya. Jadi menurutnya pendidikan berbasis masyarakat akan memperkuat posisi dan peran pendidikan sebuah model sosial. Ada 3 prinsip yang menjadi dasar pendidikan ini, yaitu sebagai berikut.

* Pendidikan TK menekankan pada pengamatan alam. Semua pengetahuan bersumber pada pengamatan.- Pengamatan seorang anak pada sesuatu akan menimbulkan pengertian. Pengertian yang baru akan bergabung dengan pengertian lama dan membentuk pengetahuan. Selain itu Pestolozzi juga menganjurkan . pendidikan kembali ke alam (back to nature), atau sekolah alam. Inti utamanya adalah mengajak anak melakukan pengamatan pada sumber belajar di lingkungan sekitar.
* Menumbuhkan keaktifan jiwa raga anak. Melalui keaktifan anak maka ia akan mampu mengolah kesan pengamatan menjadi pengetahuan. Keaktifan juga akan mendorong anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sehingga merupakan pengalaman langsung dengan lingkungan. Pengalaman interaksi ini akan menimbulkan pengertian tentang lingkungan dan selanjutnya akan menjadi pengetahuan baru. Inilah pemikiran Pestolozzi yang banyak menjadi topik perbincangan yang disebut belajar aktif (active learning).
* Pembelajaran pada anak harus berjalan secara teratur setingkat demi setingkat atau bertahap. Prinsip ini sangat cocok dengan kodrat anak yang tumbuh dan berkembang secara bertahap. Pandangan dasar tersebut membawa konsekuensi bahwa bahan pengembangan yang diberikan harus disusun secara bertahap, dimulai dari bahan termudah sampai tersulit, dari bahan pengembangan yang sederhana sampai yang terkompleks.

Konsep Pendidikan Atraktif dari Pestolozzi

Ciri khas pandangan Pestalozzi mengenai proses pendidikan TK atrakfif yaitu melalui adanya pengajaran suara, bentuk dan bilangan. Semua bidang pengembangan yang diajarkan pada anak dikelompokkan dalam 3 kategori sebagai berikut.

* Konsep suara mencakup bahan pengembangan bahasa, pengetahuan sejarah dan pengetahuan bumi.
* Konsep bentuk mencakup pengetahuan bangun, menggambar dan menulis.
* Konsep bilangan mencakup semua aspek yang berkaitan dengan berhitung.

Ketiga konsep di atas dapat melalui pengembangan AVM (Auditory Visual Memory). Melalui pengembangan AVM ini fungsi sel-sel syaraf akan berkembang dan selanjutnya akan dapat mengembangkan potensi-potensi lainnya seperti imajinasi, kreativitas, intelegensi, bakat, minat anak, misalnya dalam kelompok pengembangan auditori (bahasa), pengembangan perbendaharaan kosa kata anak dan kemampuan berkomunikasi harus mendapat perhatian intensif. Perbendaharaan kosakata akan menyentuh atau mempengaruhi dimensi potensi lainnya. Kemampuan anak berkomunikasi tergantung pada penguasaan kosakata anak.Dalam pelaksanaannya, pengembangan AVM dilaksanakan secara terpadu (intergrated). Kegiatan yang menggunakan metode percakapan dan bercerita, akan merupakan metode yang efektif dalam pengembangan AVM di TK.Sebagai contoh: memperkenalkan wama merah, bentuk bulat, rasa manis pada “Apel” merupakan salah satu model intergrated dalam pengembangan AVM.

* Melalui gambar : anak diperkenalkan dengan pengertian “Apel”.
* Melalui kosakata :anak mengucapkan kata “apel”.
* Melalui bentuk :anak mengenal bentuk bulat.
* Melalui bilangan :anak menghitung jumlahnya1, 2, 3 dan seterusnya.

2. Sistem Pengajaran Sentra

Model pendidikan ini, menitik beratkan pada pandangan seorang ahli pendidikan, Helen Parkhust yang lahir tahun 1807 di Amerika. Pandangannya adalah kegiatan pengajaran harus disesuaikan dengan sifat dan keadaan individu yang mempunyai tempat dan irama perkembangan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Setiap anak akan maju dan berkembang sesuai dengan kapasitas kemampuannya masing-masing. Walaupun demikian kegiatan pengajaran harus memberikan kemungkinan kepada murid untuk berinteraksi, bersosialisasi dan bekerja sama dengan murid lain dalam mengerjakan tugas tertentu secara mandiri. Pandangan ini mengisyaratkan bahwa Helen Parkhust tidak hanya mementingkan aspek individu, tapi juga aspek sosial.Untuk itu bentuk pengajaran ini merupakan keterpaduan antara bentuk klasikal dan bentuk individual. Sebagai gambaran pelaksanaan model ini, dapat diungkapkan sebagai berikut.

a) Ruangan kelas

Ruangan kelas dapat dimodifikasi menjadi kelas-kelas kecil, yang disebut ruangan vak atau sentra-sentra. Setiap ruangan vak atau sentra. terdiri atas satu bidang pengembangan. Ada sentra bahasa, sentra daya pikir, sentra daya cipta, sentra agama, sentra seni, sentra kemampuan motorik. Contohnya pada sentra bahasa terdapat bahan, alat-alat, serta sumber belajar seperti tape recorder, alat pendengar, kaset, alat peraga, gambar, dan sebagainya.

Pada sentra daya pikir berisi bahan-bahan ajar seperti alat mengukur, manik-manik, lidi untuk menghitung, gambar-gambar, alat-alat geometris, alat-alat laboratorium atau majalah pengetahuan. Demikian pula pada sentra khusus seperti sentra balok, sentra air, sentra musik atau sentra bak pasir.

b) Guru

Setiap guru harus mencintai dan menguasai bidang pengembangan masing-masing. Guru harus memberi penjelasan secara umum kepada murid-murid yang mengunjungi sentranya sesuai dengan tema yang dipelajari. Memberi pengarahan, mengawasi dan mempematikan murid-murid ketika menggunakan alat-alat sesuai dengan materi yang dipelajarinya. .Selanjutnya menanyakan kesulitan yang dialami murid-murid dalam mengerjakan materi tersebut. Selain dari itu guru sentra harus menguasai perkembangan setiap murid dalam mengerjakan berbagai tugas s’ehingga dapat mengikuti tempo dan irama perkembangan setiap murid dalam menguasai bahan-bahan pengajaran atau tugas perkembangannya.

c) Bahan dan Tugas

Bahan pengajaran setiap sentra terdiri dari bahan minimal dan bahan tambahan. Bahan minimal yaitu bahan pengajaran yang berisi uraian perkembangan kemampuan minimal yang harus dikuasai setiap anak sesuai tingkat usianya. Bahan ini harus dikuasai anak dan merupakan target kemampuan minimal dalam mempeiajari setiap sentra tertentu.

Bila anak sudah menguasai bahan pengajaran minimal, dapat memperoleh bahan pengajaran tambahan, yang merupakan pengembangan atau pengayaan dari pengajaran minimal. Pengayaan ini diberikan bisa secara individu maupun kelompok pada anak yang menguasai bahan minimal pada satuan waktu yang relatif sama. Bahan pengayaan ini tentu saja disesuaikan dengan kondisi lingkungan, dengan demikian anak dipersiapkan untuk menghadapi kehidupan sesuai dengan kenyataan dengan penuh tanggungjawab.

Bahan setiap sentra hendaknya terintegrasi dengan sentra lainnya. Di bawah ini merupakan contoh adanya integrasi antar sentra bidang pengembangan.

Tema : Tanaman

Sentra bahasa: Dramatisasi “Fun Cooking”‘
Sentra musik: bernyanyi menanam jagung
Sentra Aritmatika: belanja dan menghitung sayur-sayuran
Sentra air: memelihara dan merawat tanaman

d) Murid dan Tugasnya

Setiap murid akan mendapat tugas dan penjelasan secara klasikal. Masing-masing murid dapat memilih sentra yang akan diikutinya. la bebas menentukan waktu dan menggunakan alat-alat untuk menyelesaikan tugasnya. Setiap murid tidak boleh mengerjakan tugas lain sebelum tugas yang dikerjakannya selesai.Untuk mengembangkan sosiobilitas, murid boleh mengerjakan tugas tertentu bersama-sama. Dengan cara ini murid akan mempunyai kesempatan bersosialisasi, bekerja sama, tolong menolong satu dengan lainnya. Murid yang dapat menyelesaikan suatu tugas atau sudah menguasai bahan minimal, ia dapat meminta tugas tambahan dengan memilih kegiatan lain yang digemarinya. Agar perbedaan setiap murid tidak terlalu jauh, guru dapat menetapkan bahan maksimal pada setiap pokok bahasan. Bila murid tidak dapat menyelesaikannya di sekolah, karena suatu hal, maka guru dapat memberi izin untuk menyelesaikannya di rumah.

e) Penilaian Kemajuan Murid

Untuk menilai kemajuan murid digunakan tiga jenis kartu penilaian, yaitu kartu kemajuan individu, kartu rekapitulasi (mingguan, bulanan, catur wulan) dan kartu rekapitulasi laporan perkembangan setiap murid.

Penutup

Beranjak dari uraian di atas, mengenai model pembelajaran TK atraktif, maka dapat disimpulkan bahwa betapa sistem dan praktik pendidikan perlu dirancang, dikembangkan agar secara nyata menumbuhkan daya cipta peserta didik, melahirkan

hal-hal yang baru, kemampuan berpikir secara divergen, kemampuan merealisasikan gagasan dan keinginan yang koheren dengan situasi-situasi baru, membangun konstruksi pemikiran dan aksi yang positif.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi dunia pendidikan pada umumnya..Amien.

Sumber Bacaan

* Moeslichatoen R. (1999). Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanak, Depdikbud, Dirjen Dikti, Proyek Pendidikan Tenaga Akademik IKIP Malang.
* Depdiknas (2000). Diklat calon instruktur guruTK atraktif, Pengembangan Model Pendidikan untuk TK Atraktif, Depdiknas, Dirjen Dikdasmen,PPPG Keguruan Jakarta, 2000.
* Fadjar A. Malik, (2001). Pendidikan dan Kreativitas, Renungan Hardiknas, Harian KOMPAS, Mei 2001.
* Hapidin, (1999). Model-model Pendidikan untuk Anak Usia Dini. Jakarta: Ghiyats Alfiani Press.

Kamis, 25 Februari 2010

Manajemen Pengembangan SDM di TKIT Muadz bin Jabal Kota Gede Yogyakarta


Manajemen sumber daya manusia merupakan suatu kegiatan pengelolaan yang meliputi pendayagunaan, pengembangan, penilaian, pemberian balas jasa bagi manusia sebagai individu anggota organisasi maupun lembaga. Manajemen sumber daya manusia juga diartikan sebagai aktifitas-aktifitas yang dilaksanakan agar sumber daya manusia dapat didayagunakan secara aktif dan efisien. Pengembangan sumber daya manusia berpijak pada fakta bahwa setiap tenaga kerja sebagai faktor SDM memerlukan pengetahuan, keahlian dan keterampilan yang baik. TKIT sebagai lembaga formal pendidikan juga memerlukan sumber daya manusia yang baik dan berkompeten dalam hal ini SDM yang dimaksud meliputi ustadzah dan karyawan. Masih banyaknya lembaga pendidikan yang outputnya lemah dibidang agama Islam menuntut adanya pengembangan manajemen sumber daya manusia.

Kegiatan organisasi maupun lembaga yang dilaksanakan menurut fungsifungsi manajemen yaitu planning, organizing, actuating, controlling akan menjamin tercapainya tujuan yang ditetapkan oleh yang bersangkutan dan menumbuhkan citra (image) profesionalisme di kalangan masyarakat. Pencapaian tujuan tersebut ditempuh melalui pemanfaatan sumber daya dan sarana serta kerjasama dalam manajemen, karena pada dasarnya manajemen dilakukan oleh, untuk , dan dengan manusia. Faktor manusia dalam manajemen merupakan unsur terpenting sehingga berhasil atau gagalnya suatu manajemen tergantung pada kemampuan untuk mendorong dan menggerakkan SDM yang dimiliki kearah tujuan.

Suatu lembaga juga memerlukan manajemen dalam menjalankan fungsifungsi disemua aktifitasnya. Lembaga pendidikan TKIT Muadz Bin Jabal merupakan salah satu lembaga pelayanan jasa dalam hal pendidikan dan pembinaan pada anak usia dini dengan latar belakang agama. Pada saat ini banyak sekali bermunculan di masyarakat lembaga pendidikan berlatar belakang keagamaan dalam berbagai bentuk dan model seperti halnya lembaga pendidikan TKIT Muadz Bin Jabal. Melihat realitas diatas mendorong penulis tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai manajemen pengembangan sumber daya manusia di TKIT Muadz Bin Jabal.
 

Pukul:


TK IT MUADZ BIN JABAL Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon for Tadpole's Notez Flower Image by Dapino